Writing Competition
Tulisan diatas dapat download disini :
Download Tulisan
Share to Facebook
Warisan Peninggalan Ayah
Mata Eko membelak membaca pesan itu, kengerian melanda dirinya, jantungnya berdetak kencang, bulu kuduknya berdiri.
Air mata mulai mengalir keluar dari matanya.
Eko mengayuh sepedanya keluar dari pekarangan rumahnya. Jantungnya masih berdetak kencang, semakin kencang malah. Perasaannya semakin tidak enak. Bertahan sebentar kawan!
Pemandangan yang ia saksikan sangat mengerikan, yang membuat suruh titik syaraf di tubuhnya seperti mengalami sengatan listrik.
“engkau tidak membawa mantri? Tadi saya memintamu membawa mantri kemari.” Joko berkata kepada Eko dengan suara yang sulit terdengar
“saya langsung pergi ketika saya membaca pesanmu, sepertinya saya tidak sempat membaca pesan itu. Maafkan saya!”
Joko tidak bereaksi mendengar jawaban Eko, sepertinya ia telah menduga jawaban dari pertanyaannya.
Air mata mulai mengalir keluar dari matanya.
Eko mengayuh sepedanya keluar dari pekarangan rumahnya. Jantungnya masih berdetak kencang, semakin kencang malah. Perasaannya semakin tidak enak. Bertahan sebentar kawan!
Pemandangan yang ia saksikan sangat mengerikan, yang membuat suruh titik syaraf di tubuhnya seperti mengalami sengatan listrik.
“engkau tidak membawa mantri? Tadi saya memintamu membawa mantri kemari.” Joko berkata kepada Eko dengan suara yang sulit terdengar
“saya langsung pergi ketika saya membaca pesanmu, sepertinya saya tidak sempat membaca pesan itu. Maafkan saya!”
Joko tidak bereaksi mendengar jawaban Eko, sepertinya ia telah menduga jawaban dari pertanyaannya.
Tulisan diatas dapat download disini :
Download Tulisan
Profil Penulis
Rajiv Kanayalal Thawani
Institut Teknologi Bandung / ITB
Jln Otista No. 491, Bandung
Bandung
Jum'at, 11 Desember 2009 00:11 WIB
Etape 2 (Bandung-Tasikmalaya)
3